Kamis, 20 Maret 2014

KEBERADAAN EKOSISTEM DAN AKTIVITAS MASYARAKAT NELAYAN DI WILAYAH PESISIR DESA TABLOLONG KECAMATAN KUPANG BARAT KABUPATEN KUPANG



KEBERADAAN EKOSISTEM DAN AKTIVITAS MASYARAKAT NELAYAN
DI WILAYAH PESISIR DESA TABLOLONG
KECAMATAN KUPANG BARAT KABUPATEN KUPANG

OLEH
ALUDIN AL AYUBI,S.Pi


Pendahuluan

Pada dasarnya kawasan pesisir merupakan wilayah peralihan antara daratan dan perairan laut. Secara fisiografis kawasan ini didefinisikan sebagai wilayah antara garis pantai hingga ke arah daratan yang masih dipengaruhi oleh pasang-surut air laut, dengan lebar yang ditentukan oleh kelandaian (lereng) pantai dan dasar laut, serta dibentuk oleh endapan lempung hingga pasir yang bersifat lepas, dan kadang bercampur kerikil. Ruang kawasan pesisir merupakan ruang wilayah diantara ruang daratan dengan ruang lautan yang saling berbatasan. Wilayah ini memiliki beberapa ekosistem di dalamnya. Ekosistem-ekosistem tersebut diantaranya adalah ekosistem estuaria, ekosistem mangrove, ekosistem terumbu karang dan ekosistem padang lamun (Delinom dan  Lubis, 2007)
Desa Tablolong merupakan Desa pesisir yang letaknya berada di Kecamatan Kupang Barat Kabupaten Kupang Nusa Tenggarat Timur. Wilayah ini mempunyai hamparan pantai yang cukup luas.  Wilayah Pesisir Desa Tablolong memiliki tiga ekosistem di dalmnya. Ekosistem tersebut diantaranya yaitu hutan mangrove, terumbu karang dan padang lamun. Aktivitas masyarakat yang ada di wilayah pesisir tersebut yaitu sebagian besar sebagai nelayan penangkap ikan dan sebagaian besar sebagai petani pembudidaya        rumput laut (Seno, 2013).
Menurut masyarakat setempat bahwa wilayah pesisir tablolong dahulunya merupakan wilayah yang bersih, mempuyai hutan mangrove yang cukup luas, terdapat hamparan pasir putih yang indah dipandang mata, memiliki panorama terumbu karang yang indah dan memiliki perairan laut yang jernih. Namun, keadaan sekarang ini malah sebaliknya.  Hutan mangrove yang dulunya lebat malah sebagian besar di tebang untuk keperluan tertentu, hamparan pasir putih yang dulunya indah malah searang di penuhi sampah-sampah dari buangan masyarakat, panorama terumbuh karang yang dulunya menarik perhatian malah sekarang menjadi bongkahan-bongkahan akibat pemboman ikan, air laut yang dulunya jernih malah sekarang di penuhi tumpahan-tumpahan minyak akibat dari berlabunya kapal-kapal nelayan di daerah setempat.
Keadaan ini sebenarnya di akibatkan oleh sebagian besar masyarakat setempat yang sampai sekarang  ini belum memahami atau menyadari  betul akan keberlanjutan sumberdaya wilayah pesisir dan ditambah lagi dengan pola kebiasaan sebagian besar masyarakat setempat yang dari dahulu hingga sekarang belum memahami pola hidup bersih. Dengan demikian maka peran pemerintah sebagai pemegang kekuasaan dan pengambil kebijakan harus benar-benar jeli dalam menangani hal tersebut. Sebab apabila pemerintah sebagai pemegang kekuasaan dan pengatur kebijakan lengah dalam menangani hal tersebut maka efek yang akan muncul adalah semakin menurunnya sumberdaya dan semakin puruknya nasib anak cucu di masa yang akan datang.

Keadaan Umum Wilayah Pesisir Desa Tablolong

Wilayah pesisir Tablolong terleletak di Desa Tablolong Kecamatan Kupang  Barat, Kabupaten Kupang. Menurut masyarakat setempat bahwa wilayah ini dahulunya merupakan wilayah yang sangat bersih dan mempunyai hamparan pasir putih yang sangat indah. Namun, berdasarkan hasil survey di ketahui bahwa hamparan pasir putih yang dulunya indah sekarang sebagian besar sudah di tutupi oleh sampah-sampah baik yang berasal dari daratan maupun dari lautan.
Sampah dari daratan biasanya berasal dari kegiatan-kiatan yang dilakukan oleh masyarakat setempat yang membuang sampah langsung ke wilayah pantai. Sampah-sampah tersebut biasanya berupa sampa-sampah plastik kemudian ditambah lagi dengan kotoran-kotoran yang berasal dari buanga tinja masyarakat setempat. Sampah dari lautan biasanya berasal dari daun tumbuhan lamun, tumbuhan lumut, dan sargasum yang terbawa oleh ombak atau gelombang  dari aktivitas pasang dan surut air laut. Sampah dari lautan juga berasal dari plastik-plastik yang terbuang dari akibat kegiatan pelayaran kapal-kapal penumpang yang membuang sampah langsung ke lautan lalu terbawa oleh arus ke daratan . Selain itu akibat dari kegiatan pelayaran ini juga dapat menyebabkan pencemaran perairan akibat tumpahan minyak.
Masuknya sampah dari daratan ke wilayah pesisir sebenarnya  diakibatkan oleh sebagian masyarakat setempat yang belum atau kurang mengerti dan memahami akan pola hidup bersih, kemudian di tambah lagi dengan sebagian masyarakat yang masih terobsesi dengan pola kebiasan hidup nenek moyang yang dari dahulu hingga sekarang seperti pembuangan sampah yang tidak pada tempatnya dan pembuangan hajad. Hal ini terbukti dari hasil survey bahwa di temukaan adanya tempat-tempat sampah yang tersedia namun tidak dimanfaatkan dengan baik. Selain itu masih terdapat sebagian besar rumah tangga yang belum memiliki toilet. Sedangkan masuknya sampah dari lautan seperti daun-daun lamun, sargasum dan tumbuhan lumut diakibatkan oleh rusaknya terumbu karang yang berada diperairan pesisir Tablolong yang fungsinya sebagai penyangga ombak dan gelombang sehingga ketika arus dan  gelombang datang akan leluasa menerpa ekosistem yang ada.
Keadaan ini apabila tidak ditanggulangi dengan baik maka lama-kelamaan akan menyebabkan terjadianya gangguan pada tatanan ekologis wilayah pesisir sehingga akan berdampak pada hilangya ketersediaan sumberdaya pesisir seperti hilangnya biota-biota perairan pesisir (ikan-ikan, bivalvia, bulu babi dan lain-lain) yang dapat dimanfaatkan sebagai pemasok  protein hewani dan sebagai sumber pendapatan ekonomi masyarakat setempat. Hal ini sesuai dengan pendapat yang dikemukakan oleh Mukhtasor (2007) bahwa, masuknya sumber pencemar kedalam  perairan pesisir maka akan mengganggu tatanan kehidupan biota-biota yang ada di dalamnya.

Kondisi Keberadaan Ekosistem di Wilayah Pesisir Desa Tablolong
Hasil survey memperlihatkan bahwa di wilayah Pesisir Desa Tablolong terdapat tiga ekosistem yang ada di dalam yaitu ekosistem mangrove, ekosistem terumbu karang dan ekosistem pada lamun.
1.        Ekositem Mangrove
Ekosistem mangrove memiliki multifungsi, yaitu fisik, ekologis dan sosial ekonomi. Secara fisik, mangrove mampu menahan gelombang tinggi, badai dan pasang sewaktu-waktu, sehingga mengurangi abrasi pantai. Secara ekologis mangrove memiliki fungsi sebagai sumber plasma nutfah, tempat bertelur dan bersarangnya biota laut. Mangrove juga dikatakan sebagai ekosistem yang sangat produktif karena mangrove merupakan tempat yang kaya akan bahan organik dan bahan makanan lain bagi biota. Dari segi sosial ekonomi, mangrove dapat digunakan sebagai areal tumpangsari dengan memelihara jenis-jenis ikan payau yang bernilai ekonomi tinggi, atau yang sering disebut sebagai silvofishery ataupun dimanfaatkan sebagai obyek daya tarik wisata   alam dalam pengembangan ekowisata (Macnae dalam Supriharyono, 2007).
Ekosistem mangrove yang ada di pesisir Desa Tablolong letaknya berada di belakang pemukiman penduduk. Hasil survey menunjukkan bahwa jenis mangrove yang dominan pada ekosistem ini adalah berasal dari jenis Rhizophora sp, Bruguiera sp, Soneratia sp dan Avicenia sp.
Hasil wawancara yang ada, penduduk setempat mengatakan bahwa dahulunya hutan mangrove yang ada di wilayah pesisir Desa Tablolong cukup luas, tetapi berbagai aktivitas penduduk setempat seperti penebangan untuk dijadikan sebagai kayu bakar dan sebagai tiang penyangga pukat maka menyebabkan luasan hutan mangrove tersebut menjadi berkurang. Selain itu pada beberapa waktu yang lalu juga areal mangrove tersebut juga dijadikan sebagai usaha budidaya ikan bandeng sehingga banyak vegetasi mangrove yang ditebang untuk membuka areal budidaya tersebut. Namun, seiring berjalannya waktu usaha tersebut gagal karena faktor parameter kualitas air dan lain-lain yang tidak mendukung pertumbuhan  ikan yang dibudidayakan tersebut. Hal  ini terbukti dengan adanya areal-areal hutan mangrove yang kososng dkarean tidak dilakukan reboisasi atau penanaman kembali vegetasi mangrove untuk mengganti vegetasi mangrove yang hilang akibat pembukaan lahan tambak di wilayah tersebut.
Keadaan ini sebagai akibat dari ulah para pengusaha dan sebagian masyarakat  setempat yang tidak bertanggungjawab dan masih memiliki pola deterministik yaitu pola masyarakat yang hidupnya hanya bergantung pada ketersediaan sumberdaya yang ada dan tidak melindungi sumeberdaya yang ada apabila terjadi gangguan.   Selain itu apabila dilihat dari fungsi ekologis dan fungsi fisik hutan mangrove maka sebenarnya hutan mangrove yang ada di wialayah pesisir Desa Tablolong harusnya berada di depan pemukiman penduduk dan langsung mengadap ke arah laut bukan di belakang pemukiman penduduk. Sebab, dari fungsi ekologisnya maka keberadaan hutan mangrove tersebut yaitu dapat dijadikan sebagai penyumbang nutrien dan makanan bagi tumbuhan dan biota laut serta dapat pula berfungsi sebagai habitat organisme filter feader, udang, kepiting dan ikan-ikan untuk melakukan pemijahan atau sebagai tempat melekatnya telur ikan pada akar mangrove tersebut. Sedangkan dari fungsi fisik maka keberadaan hutan mangrove tersebut yaitu dapat dijadikan sebagai pengahalang material-material dari daratan yang terbawa oleh banjir menuju peairan pesisir sehingga perairan pesisir tidak mudah tercemar, selain itu keberadaan hutan mangrove di depan pemukiman penduduk  dan langsung menghadap ke arah laut mempunyai fungsi sebagai penghalang terpaan ombak dan gelombang yang datang sehingga pemukiman yang ada di sekitar tidak mudah terganggu dan  dapat melindunggi wilayah pesisir dari degradasi atau abrasi (Bengen, 2001).

2.        Ekositem Terumbu Karang
Sebagian besar karang adalah binatang-binatang kecil (disebut polip) yang hidup berkoloni dan membentuk terumbu. Mereka mendapatkan makanannya melalui dua cara: pertama, dengan menggunakan tentakel mereka untuk menangkap plankton dan kedua, melalui alga kecil (disebut zooxanthellae) yang hidup di jaringan    karang  (Rowan dan Knowlton, 1995).  Dalam karang pembentuk terumbu, kombinasi fotosintesis dari alga dan proses fisiologis lainnya dalam karang membentuk kerangka batu kapur (kalsium karbonat). Pembentukan kerangka yang lambat ini, diawali dengan pembentukan koloni dan kemudian membentuk kerangka kerja tiga dimensi yang rumit menjadikan terumbu karang sebagai tempat berlabuh bagi banyak jenis biota, yang banyak diantaranya penting untuk kehidupan masyarakat dan komunitas pesisir  (Muscatine, 1990).
Menurut pernyataan masyarakat setempat bahwa beberapa tahun yang lalu keberadaan jenis karang yang ada di wilayah perairan pesisir Desa Tablolong sangat beraneka ragam dan sangat indah dilihat jika kita menyelam. Jenis-jenis karang tersebut ada yang berupa karang keras dan ada juga yang berupa karang lunak. Namun, akibat dari ulah para nelayan penangkap ikan yang menggunakan alat penagkapan ikan yang tidak ramah lingkungan seperti bom, racun sianida dan lain-lain maka keberadaan karang tersebut menjadi hancur. Selain dari akibat pemboman dan penggunaan racun siada, rusaknya ekosistem terumbu karang yang ada di wilayah perairan tersebut juga diakibatkan oleh tumpahan minyak dari kapal-kapal penumpang dan kapal penagkapan ikan yang lewat sebab wilayah perairan tersebut merupakan salah satu alur taransportasi laut. Penyebab lainnya juga yang mengakibatkan rusaknya ekosistem terumbu karang di perairan tersebut adalah sebagai akibat dari pembuangan sampah dan  limbah dari aktivitas penduduk setempat yang ada di wilayah pesisir yang langsung menjurus ke arah perairan tersebut.
Masuknya bahan pencemar seperti tumpahan minyak dan buangan sampah serta limbah sebagai akibat dari aktifitas penangkapan ikan dan transportasi laut serta aktivitas penduduk  setempat maka akan menyebabkan penutupan polip karang sehingga proses fotosintesis oleh alga zooxanthellae dan perolehan nutrient oleh hewan karang menjadi terhambat dan akan berakibat pada pemutihan karang yang kemudian berefek pada   rusaknya  terumbu    karang   tersebut.
Oleh karena rusaknya terumbu karang terebut  maka biota-biota karang seperti ikan dan lain-lain dengan sendirinya mulai berpindah atau bermigrasi dengan melakukan ruaya untuk mencari habitat lain sebab habitat yang ada di perairan tersebut telah rusak sehingga akan berdampak pada merosostnya sumberdaya perairan pesisir di wilayah tersebut (Glynn, 1996).  Keadan ini terbukti dari hasil wawancara dengan para nelayan setempat yang menyatakan bahwa: pada beberapa tahun yang lalu, untuk mendapatkan ikan karang, kami hanya melakukan operasi penagkapan disekitar beberapa meter ke arah laut saja hasilnya sudah memuaskan. Tetapi, sekarang ini untuk mendapatkan ikan karang kami harus melakukan operasi  penangkapan   sampai  ke perairan pulau rote, itupun hasil yang kami dapatkan hanya sedikit saja.
Keadaan ini sebenarnya memberikan gambaran bahwa ketrsediaan sumberdaya perairan pesisir di Desa Tablolong sekarang ini sudah mulai berkurang sehingga upaya yang telah dilakukan sekarang ini adalah transpaltasi karang dengan tujuan untuk memulihkan atau memperbaiki kembali habitat biota karang yang  telah rusak.
Kegiatan transpaltasi karang di wilayah perairan pesisir Desa Tablolong telah dilakukan oleh Dr. Yahyah., M.Si dari Jurusan Perikanan dan Kalutan Universitas Nusa Cendana yang bekerjasama dengan masyarakat setempat. Jenis-jenis karang yang ditranspaltasi di wilayah perairan pesisir Desa Tablolong yaitu beru karang keras dan karang lunak. Karang keras yang ditranspaltasi teridiri dari Porites sp, Agaricia sp, Acropora digitate dan Acropora submassive. Sedangkan karang lunak yang ditranspaltasi adalah berupa Soft coral dan Anemone laut.

3.        Ekosistem Padang Lamun
Padang lamun (seagrass beds) juga merupakan salah satu ekosistem yang terletak di daerah pesisir atau perairan laut dangkal. Keunikan dari tumbuhan lamun dari tumbuhan laut lainnya adalah adanya  perakaran   yang ekstensif   dan   system   rhizome.  Karena tipe perakaran ini menyebabkan daun-daun tumbuhan lamun menjadi lebat, dan ini besar manfaatnya dalam menopang keproduktifan ekosistem padang lamun (Supriharyono,2007).
Berdasarkan hasil survey diketahui bahwa ada terdapat tumbuhan lamun yang terbawa oleh arus dan gelombang ke  daratan. Hal ini disebabkan oleh sistem penyangga perairan pesisir seperti terumbu     karang yang  berfungsi sebagai penyangga datangnya ombak dan gelombang telah rusak sehingga  ketika ombak dan gelombang datang akan dengan mudah menerpa sistem perakaran tumbuhan lamun dan kemudian tumbuhan lamun tersebut akan   terbawa  terus   sampai  ke    daratan. Keadaan ini apabila tidak ditanggulangi maka lama kelamaan ekosistem tersebut akan terganggu keberadaannya sehingga biota-biota yang ada di dalamnya seperti bulu babi, teripang dan lain-lainpun akan terganggu.

Aktifitas Masyarakat di Wilayah Pesisir Desa Tablolong

Aktifitas   masyarakat  di  wilayah  pesisir  merupakan  bentuk   dari       kegiatan-kegiatan yang dilakukan di wilayah pesisir. Hasil wawancara menunjukkan aktifitas masyarakat pesisir  di  Desa  Tablolong  yaitu  aktifitas   penangkapan  ikan  dan aktivitas budidaya    rumput  laut. Aktifitas penangkapan ikan oleh nelayan di pesisir Desa Tablolong yaitu dimulai dari pukul 16.00 sore sampai pukul 06.00 pagi. Areal atau lokasi penangkapan ikan biasanya berada di sekitar teluk Kupang dan di sekitar perairan Pulau Rote. Jenis alat tangkap yang digunakan operasi penangkapan ikan adalah mini purse seine dan pukat. Sedangkan  ukuran kapal untuk kegiatan penagkapan adalah berkisar anatar 5 GT sampai 30 GT.
Selain aktivitas penangkapan ikan oleh nelayan pengkap ikan di pesisir Desa Tablolong ada juga aktivitas lain yang dilakukan oleh sebagian besar masyarakat di wilayah pesisir Desa Tablolong yaitu aktivitas membudidayakan rumput laut. Areal atau lokasi budida  rumput laut adalah terletak di wilayah  perairan  pesisir   Desa Tablolong.  Jenis   rumpu    laut      yang dibudidayakan di sana adalah jenis Eucheuma cotonii dan Eucheuma spinosum.  Waktu pemanenan rumput laut yaitu berkisar antara 35 – 45 hari tergantung ketersediaan unsur hara yang ada dalam perairan tersebut. Jika ketersediaan unsur harnaya banyak maka pertumbuhan rumput laut lebih  cepat sehingga waktu panen menjadi singkat. Tetapi apabila ketersediaan unsur hara dalam perairan tersebut sedikit maka pertumbuhan rumput laut menjadi lambat sehingga waktu panen menjadi lambat (Afrianto, dan Liviawaty 1993).


REFERENSI
Afrianto E. dan E. Liviawaty, 1993. Budidaya Rumput Laut dan Cara Pengolahannya. Penerbit Bathara. Jakarta.

Bengen, D.G. 2001. Pedoman Teknis Pengenalan dan Pengelolaan Ekosistem Mangrove. Pusat Kajian Sumberdaya Pesisir dan Lautan. IPB. Bogor.

Delinom R.M dan  Lubis R.F. 2007. Sumber daya air di wilayah peisisir dan pulau-pulau kecil di Indonesia. Jakarta: LIPI Press. Hal1-25.

Glynn  P.W. 1996. Coral reef bleaching: facts, hypothesis and implications. Global Change Biology 2(6): 495–509.

Hantoro, Wahyu. 2004. Pengaruh Karakteristik Laut dan Pantai terhadap Perkembangan Kawasan Kota Pantai. http://sim.nilim.go.jp/GE/SEMI3/PROSIDING/01-WAHYU.doc. Di akses tanggal 23 September 2008.

Muscatine L. 1990. The role of symbiotic algae in carbon and energy flux in reef corals. In Z. Dubinsky (ed.) Coral Reefs: Ecosystems of the World, Volume 25. Elsevier Science, Amsterdam: 75–87.

Rowan  R. and Knowlton N. 1995. Intraspecific diversity and ecological zonation in coral algal symbiosis. Proceedings of the National Academy of Sciences of the United States of America 92(7): 2850–2853.

Seno R. 2013. Studi Kelayakan Budidaya Bulu Babi (Tripneuestes gratilla) Pada Perairan Intertidal di Pantai Tablolong. Skripsi : Jurusan perikanan dan Kelauatan. Fakultas Petanian. Universitas Nusa Cendana.

Supriharyono 2007. Konservasi Ekosistem Sumberdaya Hayati di Wilayah Pesisir dan Laut Tropis. Yogyakarta : Pustaka Pelajar.

Rabu, 19 Maret 2014

SEKILAS TENTANG BUDIDAYA RUMPUT LAUT



SEKILAS TENTANG BUDIDAYA RUMPUT LAUT


OLEH
ALUDIN AL AYUBI, S.Pi

OLEH
ALUDIN AL AYUBI, S.Pi

PEMILIHAN LOKASI BUDIDAYA RUMPUT LAUT
                     Usaha budidaya rumput laut sangat di pengaruhi oleh banyak faktor . Bukan hanya faktor internal, tetapi juga faktor luar yang secara fisik tidak dalam lingkungan budidaya namun juga memberi kontribusi terhadap keberhasilan kegiatan budidaya rumput laut (Akmal. 2008). Olehnya itu  Salah satu faktor penting untuk menunjang keberhasilan budidaya rumput laut adalah pemilihan lokasi , sehingga sering dikatakan kunci keberhasilan budidaya rumput laut terletak pada ketepatan pada pemilihan lokasi. Hal ini dapat dimengerti karena relatif sulit untuk membuat perlakuan tertentu terhadap kondisi ekologi perairan laut yang selalu dinamis, dan pertumbuhan rumput laut sangat ditentukan oleh kondisi ekologi dimana budidaya dilakukan, sehingga besarnya hasil produksi rumput laut di beberapa daerah sangat bervariasi.
                     Beberapa kegiatan budidaya baik skala kecil maupun skala besar, tidak berhasil akibat pemilihan lokasi yang tidak tepat. Apalagi pada wilayah yang penataan ruangnya belum ada yang sering menyebabkan konflik pemanfaatan lahan terutama aktivitas-aktivitas yang sangat berpengaruh tetapi kegiatannya yang berdampingan. Sebagai contoh lahan budidaya rumput laut yang sudah lama teroperasi, namun karena pesatnya pembangunan sehingga disekelilingnya juga berkembang industri dan memberi dampak negatif yang cukup besar.
                     Pemanfaatn lahan umum seperti perairan pesisir dan laut, juga sangat berpotensi tidak menentu. Terlepas dari kebijakan lokal untuk menentukan pemanfatan lahan atau kebijakan yang berubah – ubah sesuai dengan kebijakan pemerintahan yang baru. Olehnya itu, persyratan lokasi mutlak menjadi pertimbangan utama sebelum menetapkan suatu area untuk suatu usaha budidaya, khususnya budidaya rumput laut.

FAKTOR FAKTOR DALAM PEMILIHAN LOKASI BUDIDAYA RUMPUT LAUT
                 Dalam pemilihan lokasi yang tepat untuk budidaya rumput laut, perlu ditekankan pertimbangan  beberapa faktor dianataranya adalah faktor resiko, pencapaian, ekologis, higienis, dan sosio-ekonomi (Afrianto, E. dan Evi L., 1993). Banyaknya faktor yang tidak tetap ini, sehingga pemilihan lokasi sebaiknya didasarkan pada pengaruh dari beberapa faktor tersebut. Hal ini dikarenakan faktor-faktor tersebut saling berkaitan dan saling mendukung.

·      Faktor Resiko
Faktor resiko merupakan salah satu faktor non-teknis yang perlu mendapat  pehatian dalam pemilihan lokasi budidaya, yang meliputi:
Keterlindungan
Untuk menghindari kerusakan fisik sarana budidaya dan rumput laut, maka diperlukan lokasi yang terlindung dari pengaruh angin dan gelombang yang besar. Lokasi yang terlindung biasanya didaerah yang yang memiliki pulau-pulau didepannya sehingga tidak terbuka langsung dengan laut lepas. Selain terlindung oleh pulau, daerah yang dianggap cukup terlindung adalah perairan semi tertutup seperti teluk sehingga perairan yang ada didalamnya relative aman dari terjangan ombak dan badai yang cukup keras (Santika, I., 1985).
Wilayah perairan yang cukup sering mendapatkan terpaan ombak dan gelombang setiap tahun kurang sesuai untuk dipilih sebagai areal budidaya rumput laut. Pada kondisi perairan seperti ini akibat yang pat ditimbulkan berupa kerugian material atau usaha yang kurang menguntungkan. Bahkan pada kondisi yang lebih parah dpat mengakibatkan kehilangan seluruh fasilitas budidaya. Olehnya itu factor keterlindungan cukup penting artinya dalam pemilihan lokasi budidaya rumput laut.
     Keamanan
Masalah pencurian dan sabotase mungkin saja dapat terjadi pada lokasi tertentu, sehingga upaya pengamanan baik secara perorangan maupun secara kelompok harus dilakukan. Upaya pendekatan dan hubungan yang baik dengan masyarakat sekitar lokasi perlu dilakukan.
Lokasi budidya rumput laut di tablolong dan pasir panjang sesuai hasil survey di lapangan dan hasil wawancara di jelaskan bahwa di kedua lokasi tersebut jarang terjadi pencurian dan sabotase karena kebanyakan pemilik usaha budidya rumput tersebut bermukim disekitar areal usaha budidaya sehingga proses pengotrolan dan pengawasan dapat terus dijalankan (Bapak Oktavianus Sailana dan Bapak Jakob Misa) .
     Konflik Kepentingan
Pemilihan lokasi sebaiknya tidak menimbulkan konflik dengan kepentingan lain. Beberapa kegiatan perikanan (penangkapan ikan, pemasangan bubu, bagang, dll) dan kegiatan non perikanan (parawisata, perhubungan laut, industri, taman laut, dll) dapat berpengaruh negatif terhadap aktivitas usaha rumput laut.
Aspek Peraturan dan Perundang-Undangan
Untuk menguatkan keberlanjutan usaha budi daya rumput laut, maka pemilihan lokasi harus tidak bertentangan dengan peraturan pemerintah serta harus mengikuti tata ruang yang telah ditetapkan oleh Pemerintah Daerah setempat.

·      Faktor Pencapaian
Pemilik usaha budidaya rumput laut cenderung memilih lokasi yang berdekatan dengan tempat tinggal, sehingga kegiatan monitoring pertumbuhan dan penjagaan keamanan dapat dilakukan dengan mudah. Kemudian lokasi diharapkan berdekatan dengan sarana jalan, karena akan mempermudah dalam pengangkutan bahan, sarana budidaya, bibit, hasil panen dan pemasarannya. Hal tersebut akan mengurangi biaya pengangkutan.

·      Faktor Ekologis.
Faktor ekologis suatu lokasi merupakan faktor terpenting, dalam menentukan keberhasilan usaha budidaya (Puslitbangkan. 1990).  Parameter ekologis yang perlu diperhatikan antara lain: Ketersediaan bibit, arus, kondisi dasar perairan, kedalaman, salinitas, kecerahan, pencemaran dan tenaga kerja.
Ketersediaan Bibit
Lokasi yang terdapat stock alami rumput laut  yang akan dibudidaya, merupakan petunjuk lokasi tersebut cocok untuk usaha budidaya rumput laut. Apabila tidak terdapat sumber bibit dapat memperolehnya dari lokasi lain dan sebaiknya didatangkan dari daerah terdekat dengan memperhatikan kaidah-kaidah penanganan bibit dan pengangkutan yang baik.

Kecepatan Arus Perairan
Rumput laut merupakan organisme yang memperoleh makanan melalui aliran air yang melewatinya atau melalui sintesa bahan makanan di sekitarnya dengan bantuan sinar matahari. Gerakan air yang cukup akan menghindari terkumpulnya kotoran pada thallus, membantu pengudaraan, dan mencegah adanya fluktuasi yang besar terhadap salinitas maupun suhu air. Gerakan air akan membawa unsur hara, menghilangkan kotoran yang menempel pada thallus, membantu pengudaraan, dan mencegah adanya fluktuasi suhu air yang besar. Kecepatan arus yang baik adalah 20-40 cm/detik (Anonim., 2005). Indikator suatu lokasi yang memiliki arus yang baik adalah adanya pertumbuhan karang lunak dan padang lamun yang bersih dari kotoran dan cenderung miring ke satu arah
Dasar Perairan
Dasar perairan yang paling baik bagi pertumbuhan rumput laut adalah dasar perairan yang stabil yang terdiri dari potongan karang mati bercampur dengan pasir karang. Dasar perairan seperti ini biasnya juga terkait dengan tingkat kecerahan perairan. Perairan dengan dasar karang ataupun karang mati memiliki kejernihan air yang relative baik. Hal ini cukup penting bagi berlangsungnya fotosintesis bagi rumput laut (Runtuboy, N., Sahrun, 2001).
Dasar perairan yang berlumpur, kurang sesuai sebagi lokasi pemeliharaan rumput laut. Dasar perairan yang didominasi oleh lumpur dapat mengakibatkan kekeruhan yang tinggi. Kekeruhan yang tinggi bukan hanya mengakibatkan penetrasi cahaya yang rendah namun dampak langsungnya juga dapat berupa penempelan lumpur pada permukaan rumput laut, dan jika dibiarkan maka akan semakin meneutupi permukaan rumput laut yang di pelihara. Artinya terjadi pengadukan lumpur selain berpengaruh langsung pada penutupan permukaan rumput laut, juga mengurangi penetrasi cahaya. Pada kondisi seperti ini rumput laut tidak dapat tumbuh dan dapat mengakibatkan kematian jika hal ini berlangsung lama. Upaya yang dapat dilakukan untuk menghindari kondisi seperti ini adalah dengan melakukan pembersihan secara rutin pada rumput laut.
Kedalaman Perairan
Kedalaman perairan sangat tergantung dari metode budi daya yang akan dipilih. Metode lepas dasar dilakukan pada kedalaman perairan tidak kurang dari 30-60 cm pada waktu surut terendah, sedangkan metode rakit apung, rawai dan jalur pada perairan dengan kedalaman sekitar lebih dari 2 m. Kondisi ini untuk menghindari rumput laut mengalami kekeringan dan mengoptimalkan perolehan sinar matahari (Sandhori, S., 1989).  Hal ini maksudkan supaya rumput laut tidak mengalami kekeringan pada saat terjadinya surut terendah dan tidak tekena sinar cahaya matahari secara langsung.
Pada perairan yang dalam kedalaman air dapat disiasati dengan memilih teknik budidaya yang digunakan. Misalnnya dengan menggunakan metode budidaya apung, maka rumput laut yang dibudidayakan relatif akan mengikuti naik turunnya permukaan air sehingga posisinya dalam air akan tetap baik untuk pertumbuhan optimal rumput laut.
Kadar Garam ( Salinitas )
Salinitas merupakan salah satu parameter kualitas air yang cukup berpengaruh pada organisme dan tumbuhan yang hidup diperairan laut. Salinitas perairan yang ideal untuk digunakan sebagai lahan budidaya rumput laut adalah yang memiliki salinitas perairan yang tinggi dengan kisaran 30 – 37 ‰ (Anonymous,1991).  
Beberapa daerah yang perlu dihindari di dalam mebudidaya rumput laut adalah daerah yang berada berdekatan dengan muara sungai. Daerah ini umumnya memiliki salinitas yang relatif rendah disbanding dengan perairan pantai yang memiliki suplai air tawar. Bahkan pada  musim tertentu, dimana masa air tawar yang masuk cukup banyak maka salinitas perairan akan turun secara drastis. Hal ini akan berdampak kurang baik bagi pemeliharaan rumput laut.
Kecerahan Perairan
Rumput laut memerlukan cahaya sebagai sumber energi guna pembentukan bahan organik yang diperlukan bagi pertumbuhan dan perkembangannya yang normal. Lokasi yang potensial hendaknya dipilih yang memiliki kecerahan air tinggi. Lokasi budidaya rumput laut sebaiknya pada perairan yang jernih atau tingkat kecerahan yang tinggi Air keruh mengandung lumpur dapat menghalangi cahaya matahari ke dalam air serta dapat menutupi permukaan thallus yang dapat menyebabkan thallus membusuk sehingga mudah patah. Lokasi yang baik bagi budidaya rumput laut memiliki kecerahan sekitar lebih dari 1,5 m (Sandhori, S., 1989). 
Suhu Perairan
Suhu perairan sangat penting dalam proses fotosintesis rumput laut. Suhu air meskipun tidak berpengaruh mematikan namun dapat menghambat pertumbuhan rumput laut. Perbedaan temperatur air yang terlalu besar antara siang dan malam hari dapat mempengaruhi pertumbuhan. Hal ini sering terjadi di perairan yang terlalu dangkal.
Rumput lut biasanya dapat tumbuh dengan baik di daerah yang mempunyai suhu antara 26 – 30ºC (Afrianto E. dan E. Liviawaty, 1993). Sedangkan menurut Angkasa, W.I.M., Sujatmiko, J. Anggadiredja, Zantika A., (1998). suhu perairan yang baik bagi pertumbuhan Eucheuma cottonii berkisar antara 27 – 30ºC.
Oksigen terlarut
Oksigen terlarut merupakan salah satu faktor yang penting dalam kehidupan organisme untuk proses respirasi. Oksigen terlarut dalam air umumnyadari difusi oksigen, arus atau aliran air melalui air hujan dan fotosintesis. Kadaroksigen terlarut bervariasi tergantung pada suhu, salinitas, turbulensi air dantekanan atmosfer
pH (Derajat keasaman)
Keasaman air (pH) yang cocok untuk pertumbuhan rumput laut  umumnya berkisar antara 6 – 9, sedangkan yang optimal adalah 6,5 (Indriani dan Sumiarsih, 1996). Sedangkan menurut Mubarok (1998). pH yang baik bagi pertumbuhan rumput laut adalah  berkisar antara 7-9 dengan kisaran optimum 7,2-8,2
Organisme Pengganggu
Lokasi budidaya diusahakan pada perairan yang tidak banyak terdapat organisme pengganggu misalnya ikan beronang, bintang laut, bulu babi dan penyu serta tanaman penempel.
                       
·      Faktor Higienis
Lokasi budidaya rumput laut harus terhinadar dari limbah rumah tangga, aktivitas pertanian, maupun limbah industri, selain itu  budidaya rumput laut juga harus jauh dari muara sungai, karena terutama pada saat musim penghujan, merupakan sumber sampah dan kotoran lumpur. Kondisi ini akan menutupi permukaan thallus rumput laut dan akan mempengaruhi pertumbuhannya.


                         
·      Faktor Sosial-Ekonomi
Aspek sosial-ekonomi yang perlu mendapat perhatian dalam penentuan lokasi antara lain keterjangkauan lokasi, tenaga kerja, sarana dan prasarana, serta kondisi sosial masyarakat. Pemilik usaha budidaya rumput laut biasanya memilih lokasi yang berdekatan dengan tempat tinggal, sehingga kegiatan monitoring dan penjagaan keamanan dapat dilakukan dengan mudah. Kemudian lokasi diharapkan berdekatan dengan sarana jalan, karena akan mempermudah dalam pengangkutan bahan, sarana budidaya, bibit dan hasil panen.
Keterjangkauan Lokasi
Lokasi budidaya yang dipilih yang mudah dijangkau. Umumnya lokasi budidaya relatif berdekatan dengan pemukiman penduduk agar lebih mudah melakukan pemeliharaan.                            Tenaga Kerja
Dalam memilih tenaga kerja yang akan ditempatkan di lapangan sebaiknya dipilih yang bertempat tinggal berdekatan dengan lokasi budidaya, dan memiliki kemauan bekerja. Hal ini dapat menghemat biaya.
Sarana dan Prasarana
Lokasi budidaya sebaiknya berdekatan dengan sarana dan prasarana perhubungan yang memadai untuk memudahkan dalam pengangkutan. Selain dari itu juga dibutuhkan rumah ( gudang) sebagai tempat penyimpanan rumput laut sebelum di pasarkan.